Selasa, 18 Mei 2010

pembuatan biogas baturiti

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.
Beberapa tahun terakhir ini energi merupakan persoalan yang “krusial” di dunia. Peningkatan permintaan energi yang disebabkan oleh pertumbuhan populasi penduduk dan menipisnya sumber cadangan minyak dunia serta permasalahan emisi dari bahan bakar fosil memberikan tekanan kepada setiap negara untuk segera memproduksi dan menggunakan energi terbarukan. Selain itu, peningkatan harga minyak dunia hingga mencapai 100 U$ per barel juga menjadi alasan yang serius yang menimpa banyak negara di dunia terutama Indonesia.
Lonjakan harga minyak dunia akan memberikan dampak yang besar bagi pembangunan bangsa Indonesia. Konsumsi BBM yang mencapai 1,3 juta/barel tidak seimbang dengan produksinya yang nilainya sekitar 1 juta/barel sehingga terdapat defisit yang harus dipenuhi melalui impor. Menurut data ESDM (2006) cadangan minyak Indonesia hanya tersisa sekitar 9 milliar barel. (Tommy A, 2008)
Apabila terus dikonsumsi tanpa ditemukannya cadangan minyak baru, diperkirakan cadangan minyak ini akan habis dalam dua dekade mendatang. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 5 tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak. Kebijakan tersebut menekankan pada sumber daya yang dapat diperbaharui sebagai altenatif pengganti bahan bakar minyak.
UPTD Balai Perbibitan Ternak Baturiti yang ada di Propinsi Bali ikut ambil bagian untuk mendukung program pemerintah terutama dalam bidang peternakan yang berbasis Agribisnis dan berbasis pedesaaan salah satunya pemanfaatan feces ternak sebagai sumber energi alternatif melalui proses degister. Adapun energi alternatif yang dimaksutkan Gas ini berasal dari fermentasi kotoran atau feces sapi potong melalui melalui reaktor fiber (drum penampungan air) yang dimanfaatkan menjadi energi melalui proses anaerobik digestion. Proses ini merupakan peluang besar untuk menghasilkan energi alternatif sehingga akan mengurangi dampak penggunaan bahan bakar kebutuhan sehari-hari.

1.2 Identifikasih Dan Batasan Masalah
Dari latar belakang di atas maka dapat di identifikasi masalah sebagai berikut;
1. Pemanfaatan Biogas belum maksimal.
2. Pemanfaatan limbah padat yang berupa lumpur (slurry) yang keluar hanya di manfaatkan untuk pememupukan tanaman Hijauan Pakan Ternak.



Agar permasalahan tidak berkembang lebih jauh maka membatasi masalah meliputi meoptimalkan pemanfaatan Gas Bio sebagai energi alternatif untuk kebutuhan sehari-hari dan pemaanfaatan lumpur (seluri) agar dapat dikomersilkan.

1.3 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pemanfaatan Biogas sebagai energi alternatif yang ada di UPTD Balai Perbibitan Ternak Baturiti Propinsi Bali
2. Bagaimana Pemanfaatan Lumpur (slurry) hasil reaktor biogas yang ada di UPT Perbibitan Ternak Propinsi Bali

1.4 Tujuan Dan Manfaat
Tujuan
1. Solusi teknologi energi untuk mengatasi kesulitan masyarakat akibat lonjakan harga BBM di tanah air.
2. Sebagai sumber bahan bakar pengganti minyak tanah. Selain murah, sumbernya terbarukan.
3. Menghindari ancaman kelestarian alam di sekitar kawasan hutan akibat pemanfaatan kayu bakar sebagai sumber energi masyarakat pedesaan.
4. Mengoptimalkan hasil-hasil penelitian dan pengkajian teknologi biogas yang telah dilakukan penelitian yang terlebih dahulu.
5. Untuk mengetahui dan memahami pemanfaatan lumpur yang lebih baik (slurry) yang ada di UPT Perbibitan Ternak Propinsi Bali.

Manfaat
1. Terwujudnya masyarakat yang kreatif dan tercukupi kebutuhan energi sehari-hari dan terciptanya sistim pemeliharaan yang ramah lingkungan.
2. Memberikan kontribusi positif bagi lingkungan, berupa pengurangan polusi gas methana, bau tidak sedap dan potensi penyakit.
3. Meningkatkan penghasilan bagi peternak karena adanya pendapatan tambahan dari proses pengolahan feces sapi menjadi pupuk organik.
4. Sebagai bahan pertimbangan pemerintah utuk membangun program-program peternakan kedepannya.








BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Biogas
Biogas merupakan gas yang dapat dijadikan bahan bakar alternatif untuk menggantikan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti minyak tanah dan gas alam (Said, H. 1999).
Biogas juga sebagai salah satu jenis bioenergi yang didefinisikan sebagai gas yang dilepaskan jika bahan-bahan organik seperti kotoran ternak, kotoran manusia, jerami, sekam dan daun-daun hasil sortiran sayur difermentasi atau mengalami proses metanisasi (Hambali E. 2008)
Biogas adalah suatu jenis gas yang bisa dibakar, yang diproduksi melalui proses fermentasi anaerobik bahan organik seperti kotoran ternak dan manusia, biomassa limbah pertanian atau campuran keduanya, didalam suatu ruang pencerna (digester). Komposisi biogas yang dihasilkan dari fermentasi tersesbut terbesar adalah gas methan (CH4) sekitar 54-70% serta gas karbondioksida (CO2) sekitar 27-45%. Gas methan (CH4) yang merupakan komponen utama biogas merupakan bahan bakar yang berguna karena mempunyai nilai kalor yang cukup tinggi, yaitu sekitar 4800 sampai 6700 kkal/m³, sedangkan gas metana murni mengandung energi 8900 Kkal/m³. Karena nilai kalor yang cukup tinggi itulah biogas dapat dipergunakan untuk keperluan penerangan, memasak, menggerakkan mesin dan sebagainya. Sistim produksi biogas juga mempunyai beberapa keuntungan seperti (a) mengurangi pengaruh gas rumah kaca, (b) mengurangi polusi bau yang tidak sedap. (Nurhasanah 2005)

2.2 Pemanfaatan Biogas Sebagai Energi Alternatif.
Akibat penggunaan bahan bakar fosil (fuel fosil) dalam jangka panjang ternyata telah memberikan implikasi negatif terhadap kehidupan di dunia. penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam telah menyumbangkan cukup besar emisi gas efek rumah kaca yaitu karbon dioksida ke atmosfer bumi yang ikut andil dalam proses pemanasan global (global warming) belum lagi ditambah dengan penebangan hutan secara liar yang kayunya dimanfaatkan untuk kepentingan segelintir orang. Pemanasan global memberikan dampak sangat negatif dan memprihatinkan pada stabilitas kehidupan manusia antara lain menyebabkan iklim tidak stabil, peningkatan suhu permukaan laut, suhu global dunia akan cenderung meningkat, gangguan ekologis serta berdampak pada kerusakan lingkungan dan pada kehidupan. Dengan melihat implikasi negatif dari penggunaan bahan bakar fosil terhadap lingkungan dan keterbatasan persediaan cadangan BBM telah mendorong kepada pencarian sumber energi alternatif yang diharapakan juga ramah lingkungan dan bersifat dapat diperbaharui (renewable). Padahal menurut data ESDM (2006), cadangan minyak bumi Indonesia hanya sekitar 9 miliar barel per tahun dan produksi Indonesia hanya sekitar 900 juta barel per tahun. Jika terus dikonsumsi dan tidak ditemukan cadangan minyak baru atau tidak ditemukan teknologi baru untuk meningkatkan recovery minyak bumi, diperkirakan cadangan minyak bumi Indonesia habis dalam waktu dua puluh tiga tahun mendatang. (Said, H. 1999)

2.3 Potensi Pengembangan Biogas dari Limbah
Pada umumnya peternak sapi di Indonesia mempunyai rata-rata 2 – 5 ekor sapi dengan lokasi yang tersebar tidak berkelompok. Sehingga penanganan limbahnya baik itu limbah padat, cair maupun gas seperti feses dan urin maupun sisa pakan dibuang ke lingkungan sehingga menyebabkan pencemaran. Pengolahan limbah secara sederhana hanya dengan pemanfaatannya sebagai pupuk organik. Diketahui sapi dengan bobot 450 kg menghasilkan limbah berupa feses dan urin lebih kurang 25 kg per hari (Deptan, 2006). Dan apabila tidak dilakukan penanganan secara baik maka akan menimbulkan masalah pencemaran lingkungan udara, tanah dan air serta penyebaran penyakit menular. Sehingga sangat diperlukan usaha untuk mengurangi dampak negatif dari kegiatan peternakan sapi salah satunya dengan melakukan penanganan yang baik terhadap limbah yang dihasilkan melalui biogas.
Hasil biogas dari rata 3 – 5 ekor sapi tersebut setara dengan 1-2 liter minyak tanah/hari (Deptan, 2006). Dengan demikian keluarga peternak yang sebelumnya menggunakan minyak tanah untuk memasak bisa menghemat penggunaan minyak tanah 1-2 liter/hari. Pemanfaatan biogas di Indonesia sebagai energi alternatif sangat memungkinkan untuk diterapkan di masyarakat, apalagi sekarang ini harga bahan bakar minyak yang makin mahal dan kadang-kadang langka keberadaannya. Besarnya potensi limbah biomassa padat di seluruh Indonesia seperti kayu dari kegiatan industri pengolahan hutan, pertanian dan perkebunan; limbah kotoran hewan, misalnya kotoran sapi, kerbau, kuda, dan babi juga dijumpai di seluruh provinsi Indonesia dengan kualitas yang berbeda-beda. (Simamora, 2008)

2.4 UPTD Balai Perbibitan Ternak Baturiti
UPTD Balai Perbibitan Ternak Baturiti merupakan unit perbibitan ternak yang lokasinya terletak di dusun pekarangan kecamatan Baturiti. Balai ini merupakan salah satu produksi semen beku jenis sapi Bali murni yang telah dikembangkan mulai tahun 1999 sampai sekarang. Kabupaten Tabanan adalah salah satu Kabupaten dari beberapa Kabupaten / Kota yang ada di Propinsi Bali. Terletak dibagian selatan Pulau Bali, Kabupaten Tabanan memiliki Luas wilayah 839,33 Km² yang terdiri dari daerah pegunungan dan pantai.
Udara disekitar cukup sejuk dengan suhu udara 15°c (pada malam hari) hingga 30° c (pada siang hari) curah hujan cukup tinggi yaitu 3.323,3 mm pada musim penghujan dan 158,2 mm pada musim kemarau dengan lamanya hujan sekitar tujuh bulan yaitu dari bulan desember s/d bulan juni.



BAB III TENIK PELAKSANAAN

3.1 Tempat Dan Waktu Pelaksanaan
Teknik pelaksanaan dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di UPTD Balai Perbibitan Ternak Baturiti Desa Baturiti Keccamatan Kabupaten Tabanaan Prospinsi Bali, sedangkan waktu pelaksanaan dilakukan selama 12 hari yang dimulai dari 5 Febuari 2010 sampai dengan 16 Febuari 2010

3.2 Alat Dan Bahan Yang Digunakan
1. Alat tulis Menuli (ATM).
2. dokumentasi

3.3 Metode Pelaksanaan
Metode yang digunakan dalam penulisan Tugas Akhir yaitu Metode Survey sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan langsung dengan para petugas yang ada di UPTD Balai Perbibitan Ternak Baturiti profpinsi Bali. Untuk pengolahan data dilakukan dengan analisis sacara deskriptif berdasarkna data primer dan data sekunder. Pengambilan data tersebut dilakukan bersamaan dengan Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di UPTD Balai Perbibitan Ternak Baturiti yang meliputi pengamatan pemanfaatan biogas (Gas Bio)untuk memasak (kompor gas), pemanfaatan untuk penerangan petromax dan pengamatan proses pemanfaatan pupuk dari hasil reaktor biogas (slurry).

3.4 Obyek Yang Diamati
Adapun obyek yang diamati adalah penggunaan kompor biogas dan penggunaan lampu petromax parameter yang digunakan adalah lamanya pemakaian biogas atau petromak dan proses pemanfaatan pupuk organik hasil reaktor biogas dan pemanfaatanya lumpur Slurry pada tanaman Hijauan Pakan Ternak.

3.5 Prosedur Pelaksanaan
Membandingkan efesiensi penggunaan bahan bakar minyak tanah maupun listrik dengan biogas. Melihat proses pemanfaatan pada tanaman Hijauan Makanaan Ternak (HMT)








Sekema Preses Biogas



















BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

UPTD Balai Perbibitan Ternak Baturiti merupakan usaha peternakan yang menyediakan bibit, dan semen beku, Sapi Bali, serta mengembangkan pelayanan insenminasi buatan, yang wawasan agribisnis berbasis pedesaan yang didukung oleh oleh beberapa sarana penunjang peternakan. Jumlah ternak sapi jantan sebanyak 15 ekor, jumlah kandang sebanyak 2 unit, dengan Ukuran Kandang 8 x 12 m, di lengkapi dengan reaktor (degister) menampung yang berkapasitas 7 m3, hasil biogas dimanfaatkan untuk memasak (Kompor gas 3 unit) dan penerangan Lampu petromak (sebanyak 2 unit). Lumpur slurry hasil buangan biogas di manfaakan pada lahan Hijauan Pakan Ternak (HMT) seluas 4.8 Ha.
4.1 Pengolahan Limbah
Biogas sebagai salah satu sumber energi yang dapat diperbaharui, ramah lingkungan dan dapat menjawab kebutuhan akan energi sekaligus menyediakan kebutuhan hara tanah dari pupuk cair atau padat yang merupakan hasil buangan dari reaktor (Degister). Pemanfaatan biogas sebagai sumber energi alternatif dapat mengurangi penggunaan kayu bakar ataupun miyak tanah. Dengan demikian dapat mengurangi usaha penebangan hutan, sehingga ekosistem hutan terjaga.
Limbah peternakan yang ada di UPTD Balai Perbibitan Ternak Baturiti berupa feces, urin beserta sisa pakan ternak sapi yang jatuh dilantai, merupakan salah satu sumber bahan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas melalui degister. Degister di UPTD Balai Perbibitan Ternak Baturiti sebanyak satu unit yang berkapasitas 7 m3 yang terbuat dari fiber yang umumnya dikenal dengan tempat penampungan air. limbah tersebut bila tidak diolah dengan baik maka industri peternakan akan menimbulkan masalah bagi lingkungan, menurut beberapa pakar lingkungan berpendapat, menumpuknya limbah feces akan menjadi polutan karena dekomposisi bakteri patogen terhadap kotoran ternak berupa BOD dan COD (Biological/Chemical Oxygen Demand), sehingga menyebabkan polusi air, polusi udara dan bau yang ditimbulkannya.

4.2.2 Optimalisasi Pemaanfaatan Biogas
Semakin melambungnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akibat tingginya di pasar dunia sangat memberatkan masyarakat terutama yang berada di daerah terpencil dan tergolong masyarakat miskin dimana biasanya pada waktu bahan bakar naik harga BBM di lokasi ini bisa naik 2 – 5 kali lipat lebih tinggi dari harga di perkotaan.
Menurut Dinas Pertanian Dan Peternakan bahwa sapi Bali dengan bobot 450 kg menghasilkan limbah berupa feses dan urin lebih kurang 25 kg per hari. Hasil biogas dari rata 3 – 5 ekor sapi tersebut setara dengan 1-2 liter minyak tanah/hari (Deptan, 2006). Dari hasil data yang diperoleh selama Praktek Kerja Lapangan (PKL) berat rata-rata sapi jantan yang ada di UPTD Balai Perbibitan Ternak Baturiti mecapai 700-800 kg yang dapat menghasilkan feces sebanyak 35-40 kg/hari hasil rata-rata 3-5 ekor sapi setara dengan 2-3 liter minyak tanah/hari bila ternak yang dipelihara sebanyak 15 ekor maka setara dengan minyak tanah sebanyak 7-8 liter/hari. Menurut keterangan yang diperoleh dari pekerja yang ada di UPTD sebelum menggunakan biogas, mereka setiap harinya dapat menghabiskan miyak tanah rata-rata 1 liter/hari/kepala keluarga (1 x 3 kompor/hari/tiga kepala keluarga).
Dengan hasil perhitungan diatas maka dapat diartikan bahwa sistim pemeliharaan sapi Bali jantan sebanyak 15 jantan yang ada di UPTD Balai Perbibitan Ternak Baturiti dengan memanfaatkan degister dapat menambah biogas sebanyak 3-4 kompor yang sama lagi sehingga gas tidak tenbuang percuma.
UPTD Balai Perbibitan Ternak Baturiti membuat satu percontohan usaha industri peternakan yang memanfaatkan feces sebagai sumber energi alternatif untuk kebutuhan sehari-hari. Pemanfaatan itu meliputi penerangan di lingkungan kandang dan pemanfatan untuk memasak sehari-hari. Dengan demikian masyarakat petani yang tinggal di pedesaan dapat lansung melihat sistim pembuatan dan mererapkannya di lingkungan sendiri.
Cara pemanfaatan untuk penerangan yaitu gas yang dihasilkan dari degister di hubungkan ke petromak melalui selang dengan diameter 1 inch. Penggunaan penerangan di kandang sebanyak 2 lampu petromak selama 12 jam dari pukul 18.00 sore sampai dengan 06.00 pagi. Sedangkan pemanfaatan untuk kompor gas sebanyak 3 kompor
4.2.3 Potensi Pemanfaatan slurry sebagai pupuk
. Besarnya potensi limbah biogas baik yang berupa zat padat maupun yang cair hasil fermentasi reaktor biogas perlu ada penanganan secara langsung bila tidak dimanfaatkan secara akan mengakibatkan penumpukan lumpur slurry yang berlebihan sehingga bisa menyebabkan penyumbatan pada saluran pengeluaran (outlet) limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan biogas memiliki kandungan unsur hara yang lebih tinggi sehingga kualitas komposnya lebih baik. Berdasarkan hasil penelitian (Agus M. 2008) bahwa kandungan N, P dan K pada limbah padat biogas lebih tinggi dibanding pada kotoran ternak yang masih segar. Selain itu, limbah cair biogas merupakan pupuk organik yang sangat baik untuk tanaman.
Pemanfaatan lumpur slurry di UPTD Balai Perbibitan Ternak Baturiti langsung di semprotkan (untuk limbah cair) sedangkan untuk limbah padat (Slurry), yang sudah ditiriskan langsung ditaburkan pada tanaman Hijauan Pakan Ternak (HMT) karena pupuk hasil keluaran dari fermentasi bioreaktor (degister) memiliki Ph 5,5-6.00 sehingga tidak membahayakan tanaman HMT bila diberikan langsung. Dengan jumlah ternak sapi jantan sebanyak 15 ekor dengan berat rata-rata 800 kg Bila diansumsikan 1ekor akan menghasilkan feces sebayak 35-40 kg maka dalam 15 ekor akan menghasikan kotoran sebanyak 562,5 kg/hari. Dengan jumlah tersebut merupakan potensi besar bila dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk organik untuk tujuan komersial.
BAB V SIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Dari hasil pembahasn diatas dapat disimpulkan beberapa hal yaitu :
1. Biogas hasil fermentasi feces ternak sapi merupakan salah satu sumber energi yang dapat diperbaharui, ramah lingkungan dan dapat menjawab kebutuhan akan energi sekaligus menyediakan kebutuhan hara tanah.
2. Semakin melambungnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akibat tingginya di pasar dunia sangat memberatkan masyarakat terutama yang berada di daerah terpencil dan tergolong masyarakat miskin oleh karena itu pemanfaatan limbah feces menjadi salah satu solusi untuk kebutuhan sehari-hari seperti pemanfaatan untuk memasak (kompor gas) dan penerangan (lampu petromak).
3. Besarnya potensi Limbah biogas baik yang berupa zat padat maupun yang cair hasil fermentasi reaktor biogas (degister) perlu ada penanganan secara langsung agar tidak mengganggu keluarnya lumpur Slurry pemanfaatan tersebut berupa pemupukan dan penyemprotan pada tanaman HMT.
5.2 Saran
Perlu didatangkan teknologi atau alat yang baru seperti alat penampung biogas dengan kapasitas yang lebih besar sehingga bisa di komersilkan sebagai pengganti BBM, maupun mesin unit pembuatan pupuk hasil reaktor biogas.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2009. Selayang Pandang Kabupaten Tabanan (online) Tersedia di http://tabanankab.go.id/feed-us-back
Ade I Setiawan, 2007 Pemanfaatan Kotoran Ternak edisi revisi Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.
Dede Sulaeman, 2008, Sepuluh Faktor Sukses Pemanfaatan Biogas Kotoran Ternak Edisi ke-4 penerbit, Karnisius Jakarta.
Deptan, 2006 Intalasi Pembuatan Rektor Biogas Teknik Membuat dan Memanfaatkan Unit Gasbio Edisi Pertama Penerbit Agromedia Press Yogyakarta.
Hambali E. 2008. 1999 Pengaruh Pupuk Organk Dan Pupuk Kandang Sapi edisi 3 Agro Media Jakarta
Junus, M. 1997. Teknik Membuat dan Memanfaatkan Unit Gasbio. Penerbit UGM press, Yogyakarta.
Nurhasanah, 2005. Biogas Sebagai Energi Alternatif penerbit Media Pustaka Press.jakarta.
Tommy A, 2008 Pemanfaatan Limbah Ternak Untuk Pembuatan Pupuk Organik Cair (online) tersedia di http//skripsi-tesis.com, (senin 2 1 juli 2008)
Utomo Bayu 2007, Biogas Hadir Di Sewon (online) Tersedia di http://ahmad-fajar.web.ugm.ac.id html. (Januari 2007)
Said H. 1999. Biokonversi. Departemen P dan K, Dirjen. Dikti. PAU Bioteknologi IPB, Bogor.
Simamora. 2006. Membuat Biogas Pengganti Bahan Bakar Minyak Dan Gas Dari Kotoran Ternak. Penerbit Jakarta:
Willyan, D. 2008. Langkah Jitu Membuat Kompos Dari Kotoran Ternak Edisi pertama Agro Media Jakarta.








LAMPIRAN-LAMPIRAN











1. Produksi kotoran dalam sehari






Sumber : Yunus (2006)

2. kadar N dan rasio C/N dari beberapa jenis bahan organik.




Junus, M., 1987

Sumber : junus, m. 1999




Hasil Pengamatan Pemanfaatan Biogas
NO Alat Waktu Lamanya Jam
Pagi Sore
1.



2. Kompor Gas
Unit I
Unit II
Unit III
Lampu Petromak
Unit I
Unit II 2
1,5
1,5


-
- 1,5
1,5
1,5


12
12 3,5
3
3


12
12
Total Pemakaian 33,5 Jam



















1.DOKUMENTASI PKL

Senin, 17 Mei 2010

MEMILI BIBIT SAPI PERAH

BAB I PENDAHULUAN
Latar belakang
Pembibitan sapi perah saat ini masih berbasis pada peternakan rakyat yang berciri skala usaha kecil, manajemen sederhana, pemanfaatan teknologi seadanya, lokasi tidak terkonsentrasi dan belum menerapkan sistem dan usaha agribisnis. Kebijakan pengembangan usaha pembibitan sapi perah diarahkan pada suatu kawasan, baik kawasan khusus maupun terintegrasi dengan komoditi lainnya serta terkonsentrasi di suatu wilayah untuk mempermudah pembinaan, bimbingan, dan pengawasan dalam pengembangan usaha pembibitan sapi perah yang baik (Good breeding practice). Standarisasi bibit sapi kredit usaha pembibitan sapi atau disebut KUPS dapat membantu dalam proses pengadaan sapi tersebut, tentunya dengan jaminan kualitas.
Tujuan
Untuk mengetahui cara memilih ternak perah yang baik dan unggul.
Untuk mengetahui standarisasi pemilihan bibit sapi perah

Manfaat
Bangsa sapi perah
Sapi Perah Fries Holland
Sunday, March 14, 2010
By Rochadi Tawaf

Secara umum, sapi perah merupakan penghasil susu yang sangat dominan dibanding ternak perah lainnya. Salah satu bangsa sapi perah yang terkenal adalah Sapi perah Fries Holland (FH). Sapi ini berasal dari Eropa, yaitu Belanda (Nederland), tepatnya di Provinsi Holland Utara dan Friesian Barat, sehingga sapi bangsa ini memiliki nama resmi Fries Holland dan sering disebut Holstein atau Friesian saja (Foley, dkk., 1973; Williamson dan Payne. 1993).
Sapi FH mempunyai karakteristik yang berbeda dengan jenis sapi lainnya yaitu :
Bulunya berwarna hitam dengan bercak putih.
Bulu ujung ekor berwarna putih.
Bulu bagian bawah dari carpus (bagian kaki) berwarna putih atau hitam dari atas turun ke bawah.
Mempunyai ambing yang kuat dan besar.
Kepala panjang dan sempit dengan tanduk pendek dan menjurus ke depan.
Pada jenis Brown Holstein, bulunya berwarna cokelat atau merah dengan putih (Foley dkk., 1973; Ensminger, 1980; dan Makin dkk., 1980).
Sapi FH merupakan jenis sapi perah dengan kemampuan produksi susu tertinggi dengan kadar lemak lebih rendah dibandingkan bangsa sapi perah lainya. Produksi susu sapi perah FH di negara asalnya mencapai 6000-8000 kg//ekor/laktasi, di Inggris sekitar 35% dari total populasi sapi perah dapat mencapai 8069 kg/ekor/laktasi (Arbel dkk., 2001).

Cara memelih bibit
Memilih ternak sapi perah dilakukan dengan tujuan untuk memilih bibit yang ideal. Cara yang umum dilakukan adalah dengan melakukan pengamatan pada kondisi dan postur tubuh sapi. Pengamatan yang dilakukan ini harus didasari oleh : pengetahuan, ketrampilan, rasa percaya diri serta komunikasi dengan sesama praktisi.
Oleh sebab itu, untuk menilai ternak diantaranya harus mengenal bagian-bagian dari tubuh sapi serta konformasi tubuh yang ideal. Ternak yang dinilai harus sehat dan baik sesuai dengan jenis bangsanya, bagus ukuran tubuhnya, seluruh bagian tubuh harus berpadu dengan rata, harus feminin dan tidak kasar. Dengan demikian, maka kita dapat menentukan perbandingan antara kondisi sapi yang ideal dengan kondisi sapi yang akan kita nilai. Bagian-bagian tubuh sapi yang mendekati kondisi ideal dapat menunjang produksi yang akan dihasilkannya. Kondisi bagian-bagian tubuh tersebut diantaranya:
Kepala : Kepala harus atraktif dengan lubang hidung yang besar. Hal ini dapat menggambarkan tentang banyaknya pakan yang bisa dikonsumsi serta udara yang bisa dihirup melalui nafasnya. Mata harus tajam dan telinga berukuran sedang. Umumnya kepala harus halus dan lebih menunjukkan karakteristik ternak perah daripada ternak potong.

Bahu (Shoulder) : Bahu harus kuat namun tidak kasar serta merata dengan tubuh. Sapi dengan bahu yang tidak rata menandakan kurang kuat dalam menyangga bagian tubuh depan sapi.
Punggung : Punggung harus lurus dan kuat. Punggung yang lemah menandakan lemahnya tubuh secara umum
.
Bokong / Rump dan pangkal paha (Thurl) : Bokong dan pangkal paha harus panjang dan kuat untuk menahan tubuh dan ambing. Sapi harus memiliki tulang pinggul (hips) dan tulang duduk (pin bones) untuk kapasitas yang lebih besar dan kemudahan dalam beranak. Ekor harus ramping dan pangkal ekor harus berpadu dengan rapi pada bokong.

Kaki Sapi: Kaki harus lurus, kuat, cukup lebar untuk menyangga ambing yang lebih besar, serta memiliki sudut yang tepat untuk melangkah.
Pundak (withers): Pundak harus tajam melebihi bagian atas punggung. Hal ini menandakan tidak adanya lemak dan sering kali diindikasikan sebagai penghasil susu yang baik. Kulit harus tipis, lepas, dan lentur.
Body Capacity : mengacu pada kapasitas yang berhubungan dengan kerangka tubuh. Sapi dengan body capacity yang bagus memiliki lingkar dada dan lingkar perut yang luas. Saat menilai ternak ada tiga dimensi yang perlu diperhatikan, yaitu panjang badan, lebar dan dalam dada sapi.

Ambing : Ambing harus besar. Ini menandakan adanya sejumlah jaringan sekresi susu. Namun sebaiknya tidak mengandung jaringan yang non produktif yang dapat membatasi ruang jaringan sekresi susu untuk memproduksi susu. Jaringan tersebut dapat dikenali dengan melihat perubahan bentuk ambing yang significant setelah pemerahan. Ambing harus baik perlekatannya pada perut untuk mencegah terjadinya luka pada ambing dan agar mudah beradaptasi dengan penggunaan alat mesin perah modern. Ambing belakang (rear udder) harus tinggi dan lebar. Kuartir depan harus seimbang dengan kuartir belakang, panjangnya sedang melekat pada perut. Puting harus seragam ukurannya. Tepat melekat pada ambing sehingga memudahkan pemerahan.

Persyaratan Teknis Minimal Bibit Sapi Perah Indonesia.
@ Kualitatif
Secara umum
Mempunyai silsilah (pedigree) sampai 2 generasi diatasnya untuk bibit dasar dan bibit induk;
Mempunyai silsilah (pedigree) minimum 1 generasi di atasnya untuk bibit sebar;
Bebas dari penyakit menular;
Tidak memiliki cacat fisik, alat reproduksi normal, bentuk ideal (tipe sapi perah), struktur kaki dan kuku kuat;
Tanduk di dehorning

Betina :
Warna bulu hitam putih/merah putih sesuai karakteristik sapi perah;
Ambing : simetris pertautan luas kuat, bentuk tidak menggantung, jumlah puting 4, bentuk dan fungsi puting normal;
Bukan dari kelahiran kembar jantan dan betina ( free martin).
Berdasarkan kemampuan produksi susu tetuanya.
Jantan calon pejantan :
Warna bulu hitam putih / merah putih sesuai karakteristik sapi perah;
Mempunyai kartu identifikasi;
Mempunyai silsilah.
Lingkar scrotum minimum 32 cm
@ Kuantitatif
Betina umur 15 – 20 bulan Tinggi
pundak minimal 115 cm;
Berat badan minimal 300kg;
Lingkar dada minimal 155 cm.
Bibit dasar produksi susu induk (305 hari) > 6.000kg;
Bibit induk produksi susu induk (305 hari) ≥5.000 – 6.000 kg;
Bibit sebar produksi susu induk (305 hari) ≥ 4.000 – 5.000 kg.
Kadar lemak ≥ 3,5 %
Umur minimum 18 bulan;
Tinggi pundak minimum 134 cm;
Berat badan minimum 480 kg






Daftar pustaka
Rochadi Tawaf 2010 Pemberian Pakan Pedet Baru Lahir (online) tersedia dihttp://duniasapi.com/abrianto-wahyu-wibisono

Sapi Perah Fries Holland
Sunday, March 14, 2010
By Rochadi Tawaf
CARA MEMILIH SAPI PERAH
Saturday, March 20, 2010
By Rochadi Tawaf
Yuari Trantono, S.Pt., M.Sc.standarisasi pememilihan bibit sapi perah http://ternakonline.wordpress.co

PAKAN LENGKAP SILASE KOMPLIT

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang.
Problematika umum usaha peternakan di negara-negara tropis seperti Indonesia adalah faktor suhu lingkungan dan kelembaban, udara yang cukup tinggi. Kondisi ini berdampak langsung pada sistem metabolisme dan termoregulasi pada tubuh ternak. Lingkungan yang relatif panas menyebabkan sebagian ternak akan kurang makan sehingga secara kuantitas asupan zat makanan (nutrient) yang masuk dalam tubuh juga kurang. Padahal asupan nutrient ini berperan penting untuk mencukupi kebutuhan pokok (maintenance), perkembangan tubuh dan untuk kebutuhan produksi. Implikasi dari kondisi asupan gizi ternak yang kurang, tak jarang dijumpai ternak dengan pertambahan berat hidup (average daily gain/ADG) yang masih sangat jauh dari hasil yang diharapkan baik ditingkat peternakan rakyat maupun industri.(Infovet, 2009)
Faktor kuantitas dan kualitas pakan merupakan faktor utama penentu keberhasilan usaha peternakan karena hampir 2/3 biaya produksi berasal dari pakan. Oleh karena itu, kebutuhan nutrizi untuk ternak yang diberikan perlu diperhatikan, karena yang menentukan keberhasilan usaha peternakan. Sulawesi Selatan merupakan penghasil jagung ke-6 terbesar di Indonesia setelah Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sumatera Utara dan NTT. Umumnya tanaman jagung dapat diusahakan pada agroekosistem lahan kering (65–75%), lahan sawah irigasi (10–15%) dan lahan sawah tadah hujan (20-30%). Di Sulawesi Selatan luas panen tanaman jagung pada lahan non intensif, khususnya pada lahan sawah tadah hujan adalah 30.589 ha, masing- masing tersebar di 22 kabupaten, antara lain: Jeneponto, Bulukumba, Bantaeng, Takalar dan Gowa. Luas panen jagung di Sulawesi Selatan pada 2003 tercatat 191.593 Ha dengan total produksi 534.782 ton, atau rata-rata produksi 2,79 ton/ha. Kemudian pada 2004 luas panen jagung meningkat menjadi 207.048 Ha dengan total produksi yang dicapai sebesar 591.208 ton. Disamping itu PT Tata Hidup Cemerlang memiliki lahan jagung 2000 Ha di Bombana dengan produksi biomas sebesar 180.000 per tahun.(Veteriner 2005)
Ada beberapa masalah utama yang menyebabkan pakan ternak khususnya pakan ternak ruminansia yang diberikan tidak memenuhi kecukupan jumlah dan asupan nutrient. Diantaranya adalah: Bahan pakan pada umumnya berasal dari limbah pertanian yang rendah kadar protein kasarnya dan tinggi serat kasarnya. Tingginya kadar serat ini yang umumnya didominasi komponen lignoselulosa (karbohidrat komplek) yang sulit dicerna. Untuk pemeliharaan yang berskala besar peternak harus setiap saat harus berfikir mencari lagi pakan untuk memenuhi kebutuhan ternaknya sehari hari. Ketersedian pakan yang tidak kontinyu, Ini dikarenakan langkanya bahan pakan terutama di musim kemarau.
Untuk mengatasi masalah tersebut berbagai terobosan telah dilakukan, Untuk meningkatkan nilai gizi dari pakan ternak yang umum dilakukan adalah dengan memebuat menjadi hijauan kering (hay), penambahan urea (amoniasi), dan awetan hijauan (silase). Kelemahan pengolahan bahan pakan dengan pengeringan sangat tergantung dengan musim panas matahari sedangkan pengolahan dengan amoniasi (penambahan urea) acapkali terjadi kasus toksikasi karena tingginya amonia. Teknologi yang sekarang berkembang adalah pembuatan pakan tidak hanya sekedar awet tapi juga kadar nutrizi sudah komplit sesuai dengan kebutuhan berat badan ternak salah satunya yaitu pemberian pakan lengkap (silase feed complete) berbahan biomas dan kosentrat.

1.2.Identifikasi Masalah Dan Batasan Masalah.
Teknolagi pengawetan hijauan yang berkembang masih pengawetan secara tunggal yang belum dapat memenuhi kebutuhan ternak, ketersedian pakan yang tidak kontinyu menyebabkan ternak mengalami penurunan produksi. Agar lingkup permasalan tidak berkembang lebih jau maka penulis membatasi masalah meliputi. Keuntungan pemberian pakan lengkap, teknologi yang digunakan untuk pengawetan, Efesiensi tenaga kerja dan cara pemberianya kepada ternak.

1.3.Rumusan Masalah
1. Apa Keunggulan pakan lengkap (Silase feed complit) Dibandingkan Dengan Pakan Lain.
2. Apakah pemberianya dapat mengefesien tenaga kerja
3. Bagaimana teknologi pembuatan dan pemberian pakan lengkap (Silase feed complete) pada ternak.



1.4.Tujuan dan manfaat.
a. Tujuan
Untuk Mengetahui Keungulan Pakan Lengkap, Efesiensi penggunaan Pakan Lengkap, teknologi yang digunakan dan Cara Pemberian Pakan lengkap kepada Ternak
b. Manfaat.
Setiap kegiatan yang dilakukan pasti memiliki manfaat, demikian pula dengan penulisan tugas akhir yang telah selesai dilaksanakan. Adapun manfaat dari penulisan tugas akhir:
1. Untuk mempelajari secara mendalam bagaimana efesiensi pembemberian pakan terhadap tenaga kerja.
2. Sebagai penambahan ilmu pengetahuan dan wawasan teknologi yang baru dibidang pengawetan pakan ruminansia.
3. Sebagai referensi yang baru tentang pengawetan dan pembuatan pakan lengkap (silase feed komplit) yang perlu pengembangan lebih lanjut.
4. Sebagai bahan kebijakan untuk mengambil keputusan pengembangan peternakan kedepan baik dipemerintahan pusat maupun pemerintah setempat.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Pengertian Pakan Lengkap (Silase Feed Complete)
Pakan adalah semua bahan makanan yang dapat di konsumsi ternak, baik berupa daun, batang atau buahnya yang tidak mennimbulkan penyakit, dapat dicerna serta mengandung zat (nutrizi) yang dibutuhkan oleh ternak utuk keperluan hidup dan menentukan pertumbuhan dan perkembanganya. Pakan lengkap merupakan campuran dari bahan pakan ternak berupa silase dan kosentrat (pakan penguat) melalui proses fermentasi anaerob (kedap udara, kedap air dan kedap sinar matahari) yang lengkap dengan nutrient sesuwai dengan kebutuhan berat badan. Pakan sagat penting diperlukan untuk pertumbuhan ternak karena mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh karena itu pakan harus tersedia terus menerus. Pakan umumnya diberikan pada ternak berupa hijauan dan makanan penguat (konsentrat), Pemberian pakan pada ternak sapi potong yang baik disesuwaikan dengan kebutuhan bedasarkan berat badanya. (Nari 1990).


2.2. Pengertian Silase.
Silase merupakan makanan ternak yang sengaja disimpan dan diawetkan dengan proses fermentasi dengan maksud untuk mendapatkan bahan pakan yang masih bermutu tinggi serta tahan lama agar dapat diberikan kepada ternak pada masa kekurangan pakan ternak.( Hanafi D 2006)
Silase adalah pakan yang telah diawetkan yang diproduksi atau dibuat dari tanaman yang dicacah, pakan hijauan, limbah dari industri pertanian dan lain-lain dengan kandungan air pada tingkat tertentu (60-80%) yang disimpan dalam sebuah silo atau dalam suasana silo (Irawan B 2004).
Dari pengertian yang disampaikan oleh pakar diatas dapat dikatakan bahwa silase merupakan pakan hijauan yang sengaja disimpan/diawetkan dalam silo yang tertutup melalui proses fermentasi mikroba bakteri anaerob (kedap udara kedap air dan kedap sinar matahari) bahan bahannya dapat berupa limbah pertanian dengan kadar air yang telah ditentukan (60-80%). Teknologi pembuatan silase yang dikembangkan selama ini masih bersifat silase tunggal (single silage) dan proses pembuatannya dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen). Dalam praktek dilapangan, konsep silase ini cukup terkendala karena selain meminta tempat simpan (pemeraman) yang cukup vakum juga silase yang dihasilkan jika diberikan ke ternak hanya memenuhi 30-40 persen kebutuhan nutrisi ternak, hal ini teknologi pengawetan tersebut perlu diadakan kobinasi sehingga kebutuhan nutrisi ternak dapat terpenuhi sepenuhnya.
Biomas merupakan semua organ tanaman pertanian yang berupa batang, daun, dan buaahnya yang dapat dijadikan sebagai pakan ternak. Biomas dalam penulisan tugas akhir ini adalah biomas yang berasal dari tanaman jagung yang berumur 65-75 hari. Permasalahan penyediaan pakan umumnya muncul pada musim kemarau, utamanya pada wilayah beriklim kering seperti NTT dan NTB. Dewasa ini ada kecenderungan bahwa pada musim kemarau, pertumbuhan areal pertanaman jagung lebih cepat dari pada padi maupun komoditas palawija lainnya, seperti yang terjadi di Jawa Timur, Lampung dan Sulawesi Selatan, sehingga peranan jagung akan strategis didalam penyediaan hijauan pakan untuk sapi (Subandi 2004).
Potensi hasil samping jagung sangat melimpah untuk pakan hijauaan, Jika tujuan budidaya jagung untuk menghasilkan hijauan pakan ternak/sapi, maka jagung dapat ditanam secara khusus yang dipanen secara keseluruhan bagian tanaman (batang, daun, dan tongkol) sewaktu tongkol masih muda, sekitar kisaran umur 65 – 75 hari setelah tanam. Untuk tujuan ini, jagung dapat dibudidayakan mengisi waktu sisa (MK II) pada lahan persawahan yang dibiarkan kosong karena pertimbangan waktu yang tidak cukup untuk pertanaman padi sampai panen. Areal sawah dengan kondisi demikian diyakini cukup luas, diantaranya seperti yang ada di Pantura Jawa Barat. Melalui teknik budidaya yang baik, biomas pakan segar yang diperoleh dari pertanaman jagung tersebut dapat mencapai 70 – 100 ton/ha, sehingga merupakan potensi penghasil hijauan pakan sapi yang sangat besar yang perlu digarap.

2.3. Pengertian Pakan Penguat (konsentrat)
Makanan penguat (konsentrat) merupakan bahan makanan yang berkosentrasi tinggi dengan kadar serat kasar rendah. Fungsi makanan penguat yaitu meningkatkan, dan memperkaya nilai gizi. Untuk hidup hidup pokok dan dapat produksi ternak sapi potong memerlukan pakan penguat. Bahan bahan pakan penguat terdiri dari biji bijian yang sudah dihaluskan seperti jagung, kapok, menir, kedelai dan sebagainya. Hasil ikutan dari perusahaan atau industri dan pertanian katul, dedak, pollar, bungkil kacang, bungkil kelap, bungkil ketela dan sebagainya. Bahan berasal dari hewan seperti tepung daging, tepung darah, tepung ikan, susu skim dan sebagainya.(Sugeng B.2004)












BAB III
TEHNIK PELAKSANAAN

3.1 .Tempat Dan Waktu Pelaksanaa.
Pelaksanaan kegiatan Praktek Kerja Lapangan dilaksanakan di Kabupaten Takalar Kecamatan Marbo Desa Lengkese disalah satu industri pakan ternak PT. Tata Hidup Cemerlang yang didalamnya terdapat Sistim Peternakan Mulltiguna yang didirikan pada tahun 2002, PT. Tata Hidup Cemerlang merupakan perusahaan yang bergerak dalam usaha produksi pakan ternak khusus ruminansia. Adapun waktu praktek kerja lapangan pelaksanakan selama kurang lebih dua bulan sejak tangggal 2 maret 2009 sampai dengan 25 april 2009.

3.2 .Alat dan Bahan yang digunakan.
Alat yang digunakan dalam kegiatan terdiri dari :
1. Mesin lido (pemotong).
2. Mixing horizontal (pencampur silase dan kosentrat)
3. Timbangan berkapasitas 300 kg dan 25 kg.
4. Sekop.
5. Kereta dorong.
6. Drom plastik berpenutup.



Bahan yang digunakan dalam kegiatan terdiri dari :
1. Silase jagung.
2. Pakan kosentrat.
3. Biomas.

3.2 .Metode Pelaksanan.
Metode pelaksanaan yang digunakan adalah metode observasi partisipasi yaitu melakukan pengamatan langsung kelapangan dan ikut berpartisipasi dalam Kegiatan Prakter Kerja Lapangan sesuwai dengan prosedur atau jadwal kegiatan yang ada ditempat lokasi Praktek Kerja Lapangan. kegiatan tersebut meliputi pemberian pakan, pemandian sapi, penimbangan, sanitasi kandang seperti; pembersihan lantai kandang membersikan tempat pakan dan tempat minum.
3.3. Obyek Pengamatan
Adapun obyek yang diamati adalah sistim penggemukan sapi potong (sapi Bali) dan para meter yang diguanakan meliputi keungulan pakan lengkap, pemberian pakan pada ternak, waktu yang digunakan dalam pemberian pakan serta sanitasi kandang dan efesiensi tenaga kerja.




3.4. Prosedur Pelaksanaan.
Adapun uruaian kegiatan yang dilakukan terrhadap obyek yang diamati : perhitungan waktu yang digunaklan selama pemberian pakan. perhitungan tenaga kerja yang dibutuhkan dalam untuk sistim pemeliharaan sapi Bali, dan prosedur pembuatan pakan di PT. Tata Hidup Cemerlang (Makasar).























BAB IIV
HASIL DAN PEMBAHASAN.

4.1.Hasil.
4.1.1 Keadaan Wilayah.
PT.Tata Hidup Cemerlang merupakan salah satu industri pakan ternak ruminansia yang ada dipropinsi sulawesi selatan kab.Takalar yang didalamnya terdapat sistim penggemukan ternak sapi potong (dry lot fattening), industri tersebut memiliki jumlah ternak sapi bali sebanyak 58 ekor yang digemukan selama 2-3 bulan. Kabupaten Takalar secara geografis terletak antara 5,3 – 5,38 Lintang Selatan dan 119,02 – 119,39 Bujur Timur mempunyai batas-batas wilayah, sebagai berikut: Sebelah utara, Kotamadya Makassar dan Kabupaten Gowa, Sebelah selatan, Laut Flores, Sebelah barat, Selat Makassar Sebelah timur, Kabupaten Jeneponto dan Kabupaten Gowa. Topologi wilayah Kabupaten Takalar terdiri dari daerah pantai, dataran dan perbukitan. Di bagian barat adalah daerah pantai dan dataran rendah dengan kemiringan antara 0 – 3 derajat sedang ketinggian ruang bervariasi antara 0 – 25 m, dengan bantuan penyusun geomorfologi dataran di dominasi endapan alluvial, endapan rawa pantai, batu gamping terumbu dan tufa serta beberapa tempat bantuan lelehan basal.
Secara hidrologis Takalar beriklim tropis dengan dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan biasanya terjadi antara bulan Nopember hingga bulan Mei. Rata-rata curah hujan bulanan pada musim hujan berkisar antara 11,7 mm hingga 653,6 mm dengan curah hujan tertinggi rata-rata harian adalah 27,9˚C (Oktober) dan terendah 26,5˚C (Januari – Februari). Temperatur udara terendah rata-rata 22,2 hingga 20,4˚C pada bulan Februari – Agustus dan tertinggi 30,5 – 33,9˚C pada bulan September – Januari.

4.1.2.Perhitungan waktu yang digunakan Sehari
No kegiatan Waktu yang dibutuhkan Waktu maksimal
Satuan jumlah
1 Sanitasi tempat pakan dan minum 1 kandang 25 menit 3 kandang 80 menit
2 Pemberian minum 1 kandang 15 menit 3 kandang 50 menit
3 Pemandian sapi 1 ekor 10 menit 58 ekor 600 menit
4 Pemberian pakan (pagi x2) 1 ekor 1 menit 58 ekor 60 menit
5 Pemberian pakan (siang) 1 ekor 1 menit 58 ekor 60menit
6 Pemberian pakan (sore) 1 ekor 1 menit 58 ekor 60 menit
7 Pemberian pakan (malam) 1 ekor 1 menit 58 ekor 60 menit
8 Pengangkatan kotoran ternak 1 kandang 15 menit 3 kandang 50 menit
Total 1020 menit
Sumber : Data pkl 2009

Jadi 1020 menit/17 jam/hari, jika tenaga kerja 2 orang waktu yang dibutuhkan 8,5 jam./hari




4.1.3.Data Pemberian Pada Ternak sapi bali.
No Kelompok BB Berat Badan Jumlah pemberian Satuan
1 Kelompok I 100-170 kg 5-9 Kg
2 Kelompok II 170-230 kg 9-13 Kg
3 Kelompok III 230-300 kg 14-18 Kg
Sumber : Data pkl 2009 THC makasar.

4.2. Pembahasan.
Sebagian besar pakan sapi mengandung serat yang tinggi, sehingga perlu teknologi pengolahan agar nilai kecernaannya maningkat. Salah satu pengolahan yang bisa dilakukan adalah dalam bentuk silase. Silase merupakan hijauan yang diawetkan dengan cara fermentasi dalam kondisi kadar air yang tinggi (60-80 persen). Keunggulan pakan yang dibuat silase adalah pakan awet (tahan lama), tidak memerlukan proses pengeringan, meminimalkan kerusakan zat makanan/gizi akibat pemanasan serta mengandung asam-asam organik yang berfungsi menjaga keseimbangan populasi mikroorganisme pada rumen sapi.
Lingkungan yang relatif panas didaerah tropis menyebabkan sebagian ternak akan kurang makan jika kita hanya memberikan pakan hanya silase murni kebutuhan nutrri belum dapat memenuhi untuk hidup pokok, sehingga secara kuantitas asupan zat makanan (nutrient) yang masuk dalam tubuh juga kurang. Untuk itu pakan silase sangat berperan digunakan untuk memenuhi kebutuhan ternak untuk hidup pokok dan dapat berproduksi. Konsep teknologi silase yang dikembangkan selama ini masih bersifat silase tunggal (single silage) dan proses pembuatannya dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen). Dalam praktek di lapangan, konsep silase ini cukup terkendala karena selain meminta tempat simpan (pemeraman) yang cukup vakum juga silase yang dihasilkan jika diberikan ke ternak hanya memenuhi 30-40 persen kebutuhan nutrisi ternak.oleh karena itu untuk mencukupi kebutuhan tersebut silase tersebut dalam pembuatanya harus ditambahkan kosentrat (pakan penguat) disuaikan dengan kelompok berat badanya.

4.2.1.Efesiensi Pemberian Pakan Lengkap.
Pemberian pakan silase komplit untuk usaha peternakan yang bersekala menengah keatas atau lebih dari 20 ekor dapat memberikan efesiensi tenaga kerja Pemeliharan ternak sapi dalam skala besar pada umumnya mengguanakan tenaga kerja dalam jumlah yang banyak, mungkin dirasa kurang menghemat biaya, bila dihitung upah yang digunakan untuk tenaga kerja lebih mahal dibandingkan dengan harga pakan yang diberikan. Upah tenaga kerja/orang 500-700 ribu/bulan bila pemeliharaan ternak sapi hanya mencapai 100 ekor dan perbandingan 10/1 maka peternak harus mengeluarkan biaya sebanyak Rp 6.000.000/bulan. Dalam pemeliharaan ternak sapi skala besar penggunaan pakan sebaiknya mennggunakan pakan lengkap karena dengan pakan lengkap peternak tidak perlu lagi: Menyediakan lahan Menanam hijauan sebagai pakan ternak, Tidak mengeluarkan biaya untuk membeli unit produksi pakan,dan Menghemat biaya terutama tenaga kerja sebesar 50-70%. Dengan pemberian pakan lengkap peternak dapat menghemat biaya tenaga kerja sebesar Rp. 4.200.000./bulan atau sama dengan membuang harga pakan sebesar 2.4 ton/bulan jumlah tersebut bisa dikonsumsi oleh sapi sebanyaak 6 ekor/bulan dengan berat badan 200 kg. bila kenaikan berat badanya perhari rata rata 0.5 produksi daging minimal 90 kg x Rp 55.000 = Rp 4.950.000.
4.2.3. Keunggulan Pakan Lengkap (Silase Komplit)
Berbeda dengan silase tunggal, silase komplit memiliki beberapa keunggulan diantaranya adalah:
a. Kandungan gizi yang dihasilkan juga lebih tinggi, dapat memenuhi 70-90 persen kebutuhan gizi ternak sapi.
b. Memiliki sifat organoleptis (bau harum, asam) sehingga lebih disukai ternak (palatable).
c. Pemberianya sangat mudah dan cepat, karena peternak tidak perlu membuat lagi tinggal membeli di industri pakan yang siap disajikan.
d. Peternak biasa menghemat atau mengefesienkan waktu.
e. Pakan alternatif musim kemarau

4.2.4. Teknologi Pembuatan Pakan Lengkap.
Pembuatan pakan lengkap membutukan teknologi moderen karena mesin mesin unit produksi pakan terbilang cukup mahal sehingga peternak skala menengah kebawah atau kelompok kelompok peternak merasa tidak mampu untuk membeli mesin mesin tersebut. mereka berfikir dengan hasil penggemukan dibawah 20 ekor belum tentu bisa membiayai kegiatan selama produksi. Mesin mesin pembuatan pakan lengkap dirancang khusus untuk mencacah/mencincang biomas jerami padi, Jerami jagung, tongkol jagung, pucuk tebu, Rumput gajah dan limbah pertanian lainnya sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku Pakan Ternak ruminansia.
a.Spesifikasi teknis mesin Pemotong Lido:
1. Mesin 24 PK 5000 rpm mesin china pakai stater otomatis built-up.
2. Panjang Tabung 40 cm dengan Diameter tabung 120 cm.
3. Memiliki lima plat pisau pemotong, dan pelumat sehingga hasilnya lebih halus.
4. Ukuran hasil cacahan dapat diatur sesuai dengan hasil yg diinginkan dengan hanya melakukan setting pada alat.
5. Pisau tajam; pemotong: 5 buah hasil rajangan sangat halus 1-3cm.
6. Kapasitas olah/merajang Jerami jagung atau biomas: 800-900 kg per jam.
7. Pisau dapat dengan mudah dibuka dan dipasang sehingga memudahkan dalam mengasah maupun mengganti pisau yg telah aus.
8. Memiliki dua roda pemasukan otomatis.
9. Tebal Plat 5 mm.
b.Spesifikasi teknis mesin Pencampur (Mixing Horizontal):
1. Kapasitas pencampuran 800-900 kg.
2. Plat tebal 5 mm.
3. Motor listrik 2000 watt
4. Motor kereta 1000 watt.
Untuk pembuatan silase sebanyak 1 ton membutuhkan 20 tong plastik yang mempunyai tutup rapat namun bila menggunakan wadah plastik karbon sebanyak 33-34 lembar.

4.2.4.Prosedur Pembuatan Pakan Lengkap.
1. Pencacahan biomas
Biomas yang dipilih utuk dicacah dipilih yang umurnya mencapai 65-75 hari. Pencacahan dilakukan dengan menggunakan mesin pemotong lido dengan ukuran panjang 1-3 cm. Pencacahan tujuannya agar penyimpanan lebih mudah dan tidak membutuhkan tempat penyimpanan banyak.
1. Pemeraman.
Bahan biomas yang sudah dicacah kemudian dimasukan dengan sekop kedalam silo (drom plastik) yang mempuyai penutup dan plat pengunci untuk disimpan atau diawetkan menjadi silase selama 21 hari.
2. Pencampuran
Pencampuran dilakukan dengan menggunakan mesin mixing horizontal yang dilengkapi dengan kereta listrik. Sebelum bahan dimasukan lubang mixing dibuka terlebih dahulu dengan cara membuka pengunci pintu lubang. Bahan yang dimasukan terlebih dahulu adalah silase yang sudah dieramkan selama 21 hari, kemudian bahan yang kedua adalah kosentrat, setelah kedua bahan tersebut masuk lubang pemasukan mixing tersebut ditutup dengan rapat pengunci pintu. Kemudian diputar selama 7-10 menit.
3. Pengepakan.
Setelah proses pencampuran selesai, pengunci lubang mixing dapat dibuka dan tutup lubang di hadapkan kebawah, dan diputar dengan tujuan agar bahan pakan dapat jatuh dengan sendirinya melalui lubang pemasukan. Kemudian bahan pakan yang tercampur tersebut dapat langsung dilakukan pengepakan dalam drom plastik dan langsung diberikan pada ternak.


4.2.5. Pemberianya kepada ternak.
Pemberian pakan lengkap (silse feed complete) di PT Tata Hidup Cemerlang makasar, sapi dikelompokan menjadi 4 yaitu: Kelompok I dengan berat badan 100-150 kg, Kelompok II dengan berat badan 150-170 kg. Kelompok III dengan berat badan 170-230 kg, Kelompok IV dengan berat badan 230-300 kg. Pemberianya kepada ternak disesuwaikan dengan kebutuhan berat badanya, Untuk Ternak Sapi Kelompok I diberikan pakan sebanyak 6-10 kg/ekor, Kelompok II diberikan pakan sebanyak 10-12,5 kg/ekor, Kelompok III diberikan pakan sebanyak 13-14,5 kg/ekor dan Kelompok IV diberikan pakan sebanyak 15-18 kg/ekor.


BAB V
PENUTUP


5.1. Kesimpulan.
Pemberian pakan lengkap kepada ternak sapi potong peternak mempunyai banyak keuntungan, selain menghemat biaya tenaga kerja tapi peternak tidak perlu Menyediakan lahan Menanam hijauan sebagai pakan ternak.Tidak mengeluarkan biaya untuk membeli unit produksi pakan. Menghemat biaya terutama tenaga kerja sebesar 60-80%. Dibandingkan dengan pemberian pakan silase biasanya. Pembuatan silase komplit dapat dijadikan salah satu cara untuk mengatasi kekurangan pakan dimusim kemarau sekaligus memperbaiki kualitas gizi pakan ternak.

5.2. Saran.
Untuk menhindari terjadinya kekurangan stok bahan baku pakan lengkap sebaiknya suatu industri pakan ternak dapat menyiapkan lahan yang cukup untuk produksi biomas, sehingga kebutuhan nutrizi ternak tercukupi secara kontinyu.




DAFTAR PUSTAKA
AAK, 2008 Hijauan Makanana Ternak Potong Kerja Dan Perah Edisi ke-19 Penerbit kanisius. Yogyakarta.

Sofyan & a. Febrisiantosa 2008 Tingkatkan Kualitas Pakan Ternak Dengan Silase. Bpptk - lipi, yogyakarta (online) Tersedia di http//www/unisla.com senin, htm. 21 januari 2008.

Siregar,M.S,2004. Penggemukan Sapi Potong Edisi IX Pt.Penebar Swadaya,Jakarta

Kushartono, 2004 Teknologi, Alat dan Mesin Peternakan. Modul Diklat Teknis Teknologi Peternakan dan Alsin. Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat.

Mashur dan kaharudin, 2004 kualitas biomas jagung cacah sebagai pakan (online) Tersedia di http://ntb.litbang.deptan.go.id pdf
Majalah Infovet, 2009 Bukan Sekedar Mengenang Silase Komplit (online) Tersedia di http//www.infovet.co.cc htm.Edisi 168 Juli 2009.
Nari,M.1990, Teknologi Pembutan Pakan Ternak edisi 2 Gajah Mada University
Press. Yogyakarta.

Subandi dan Zubachtirodin, 2004. Prospek Pertanaman Jagung Dalam Produksi Biomas Hijauan Pakan(online) Tersedia di http://ntb.litbang. deptan.go.id 2004/TPH/ prospek pertanaan.doc
Veteriner, 2005 Sistem Integrasi Tanaman Jagung–Sapi Potong Di Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan (online) tersedia di http://peternakan. litbang.deptan.go.id /publikasi/semnas/pro05-40.pdf.



Biaya pembuatan kosentrat dalam I ton
No Bahan Jumlah Harga (Rp) Total biaya
1 Dedak kelas 2 335 800 Rp 268.000
2 P0llar 223 1000 Rp 223.000
3 Jagung 223 1000 Rp 223.000
4 Mineral mix 10.2 2500 Rp 25.500
5 Kapok 80.3 400 Rp 32.150
6 Kosentrat ayam petelur (stater) 110.2 3000 Rp 330.600
7 garam 10.2 600 Rp 6120
1.000 Rp.1.085.420
Harga penjualan 1000kg(1.ton)x Rp.1300/kg= Rp.1.300.000.


NO Nama kelompok Jumlah Harga Total
silase kosentrat Silase (Rp) Kosentrat(rp)
1 KELOMPOK I 1000 kg 250 kg Rp 450.000 Rp 325.000 Rp 7100.000
2 KELOMPOK II 1008 242 Rp 454.800 Rp 314.600 Rp 769.400
3 KELOMPOK III 832.5 167.5 Rp 499.500 Rp 217.1000 Rp 717.000



Waktu yang digunakan untuk pemeliharaan 100 ekor sapi.

No kegiatan Waktu yang dibutuhkan waktu
satuan jumlah maksimal
1 Sanitasi tempat pakan dan minum 1 kandang 25 menit 4 kandang 110 menit
2 Pemberian minum 1 kandang 15 menit 4 kandang 65 menit
3 Pemandian sapi 1 ekor 10 menit 100 menit 1000 menit
4 Pemberian pakan (pagix2) 1 ekor 1 menit 100 ekor 205 menit
5 Pemberian pakan (siang) 1 ekor 1 menit 100 ekor 105 menit
6 Pemberian pakan (sore) 1 ekor 1 menit 100 ekor 105 menit
7 Pemberian pakan (malam) 1 ekor 1 menit 100 ekor 105 menit
8 Pengangkatan kotoran ternak 1 kandang 15 menit 4 kandang 65 menit
Total 1.695menit
Jadi 1.760 menit sama dengan 29.4 jam kalau tenaga kerja 3 orang 9.8 jam/orang/hari.

4.1.4.Harga Bahan baku
Pakan lengkap (silase komplete)
No Bahan satuan Harga/ Rp
1 Biomas kg 200
2 Dedak kelas 2 Kg 800
3 P0llar Kg 1000
4 Jagung Kg 1000
5 Mineral mix kg 3500
6 Kapok Kg 400
7 Kosentrat ayam petelur Kg 2500

Biayaa tenaga kerja @ Rp 20.000/orang
1 Pencacah orang 2.0000
2 mixing orang 2.0000
3 pengepakan orang 2.0000
Biaya lain
1 Pembelian solar liter 3liter 15000
2 listrik kwh 20.000
Harga penjualan.
1 Silase komplit kg 900
2 kosentrat kg 1750
3 silase kg 600
Untuk penjualan 1ton 1000 kg x 900 = Rp.900.000
Biaya Tenaga Kerja
No Biaya anak kandang Perbulan
1 Agok RP. 600.000
2 Didin RP 600.000
total Rp 1. 200 000






Tabel Bobot biomas jagung 4 varietas pada yang di panen umur 65-75hari di takalar, sulawesi selatan,

No
Jenis Jumlah produksi
Ton/ha
1 Varietas
66.667
133.333
200.000

2 Bima-1
48,1
57,1
82,5

3 Semar-10
37,3
52,2
66,0

4 Bisi-2
36,2
48,2
56,4
5 Lamuru
34,2
50,9
64,4


Sumber: Sumber:BALITSEREAL MAROS Akil et al., (2004)




No BAHAN KELOMPOK
Pencampuran Kelompok I Kelompok II kelompok III kelompok IV
Silase 700 kg 720 kg 759 kg 832,5 kg
kosetrat 300 kg 280 kg 241 kg 166,5 kg
0